Autisme Pada Anak Bukanlah Kutukan

Banyak orang yang masih menganggap kalau mempunyai anak autis merupakan kutukan, sehingga malu mengenalkan anak. Sehingga ada beberapa orang tua memilih untuk menyembunyikan atau mengunci anaknya yang autis di satu ruangan, karena malu, atau takut anak mereka meresahkan orang sekitar. Bahkan ada yang membuang atau melantarkan anak mereka begitu saja. Pemahaman ini sudah sangat kuno. Mari kita mengenal lebih tentang autisme pada anak.

Penyebab autisme pada anak

Sebenarnya belum diketahui alasan pasti kenapa dan apa penyebab autisme pada anak. Tapi ada beberapa faktor yang diduga bisa memicu seseorang mengalami autisme.

  • Jenis kelamin
    Anak laki-laki bisa empat kali lebih berisiko alami autisme dibanding anak perempuan.
  • Faktor genetik
    Jika orang tua memiliki anak autisme, ada kemungkinan 2-18% anak selanjutnya mengalami hal serupa.
  • Terlahir kembar
    Untuk bayi kembar yang tidak identik memiliki kemungkinan 0-31% bisa mengalami autisme. Dan pada anak yang kembar identik memiliki kemungkinan lebih besar mengalami autisme yaitu 36-95%.
  • Usia
    Semakin tua usia memiliki anak, semakin besar risiko memiliki anak autis. Untuk pria yang memiliki anak pada umur 40-an, memiliki risiko 28% lebih besar danĀ  memiliki risiko 66% lebih besar pada usia 50-an. Sedangkan pada wanita yang melahirkan pada usia di atas 40-an, meningkatkan risiko memiliki anak yang autis hingga 77%.
  • Pengaruh gangguan lainnya
    Efek dari distrofi otot atau dalam bahasa medis fragile x syndrom, kelumpuhan otak (celebral palsy), neurofibromatosis, sindrom down juga sindrom rett.
  • Pajanan selama dalam kehamilan.
    Mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang (terutama obat epilepsi) selama masa kehamilan, memiliki risiko lebih besar.

Autisme pada anak dibagi menjadi beberapa bagian

  1. Autistic Disorder
    Kondisi di mana anak sulit berkomunikasi atau memahami permasalahan atau sudut pandang orang lain. Mereka lebih senang dengan dunia mereka sendiri. Ini karena mereka memiliki kesulitan untuk menafsirkan emosi, namun mereka memiliki keunggulan. Terutama pada hal yang mereka sukai, mereka dapat melakukannya dengan sangat baik bahkan sempurna.
  2. Asperger Disorder
    Sangat bertolak belakang dengan autistic disorder. Pada kasus asperger disorder, mereka malah tidak memiliki masalah dalam berkomunikasi bahkan mempunyai kemampuan berbahasa lebih baik terutama di bidang atau hal yang disenanginya. Sekilas mereka terlihat seperti tidak memiliki empati. Sebenarnya ada, tapi mereka tidak bisa memberikan respons yang biasa dilakukan oleh orang-orang. Mereka lebih memilih untuk mendiskusikan dengan diri sendiri.
  3. Childhood Disintegrative Disorder
    Kondisi dimana anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya, bahasa bahkan fungsi sosial. Biasanya anak akan mengalami perkembangan normal sampai usia 2 tahun, kemudian perkembangannya akan mulai melambat sampai ia menginjak usia 3, 4 bahkan usia 10 tahun.
  4. Pervasive Development Disorder
    Ini merupakan hasil diagnosa terakhir. Gejalanya bisa dibilang lebih kompleks dibanding dua tipe autisme yang dijelaskan di atas.
Penanganan yang diperlukan anak autisme

Untuk autisme sendiri sebenarnya belum ada obat untuk menyembuhkannya, namun ada beberapa terapi yang bisa membantu menangani anak autis.

  • Pahami gerak atau isyarat dari anak. Misalnya saat ia menunjuk sesuatu atau mencoba memberitahukan sesuatu.
  • Jangan melakukan kekerasan atau perilaku kasar di depan anak.
  • Buatlah jadwal, perpindahan dari kegiatan a ke kegiatan b lakukan secara teratur.
  • Berikan anak kesempatan mengekspresikan apa keinginannya. Dan tetap awasi mereka.
  • Psikoterapi atau terapi perilaku kognitif. Terapi yang melatih cara berpikir serta fungsi kognitif pada anak